• Thfffred slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • frff

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

Konsep Dasar Bimbingan Kelompok dan Konseling Kelompok

KONSEP DASAR BIMBINGAN KELOMPOK
DAN KONSELING KELOMPOK
Oleh : Amar Faruq, S.Pd
(Guru BK MIS Kemenag Kab. Gresik Jawa Timur)
 

A. Pendahuluan
Kiprah bimbingan dan konseling dewasa ini tidak lagi hanya terbatas pada lingkungan pendidikan sekolah, melainkan menjangkau seting luar sekolah dan masyarakat. Dalam era kesejagatan saat ini, individu dituntut agar selalu mengembangkan dan/atau memperbaiki kecakapannya dalam memilih informasi agar dapat mengambil keputusan secara tepat. Pengembangan dan/atau perbaikan kecakapan semacam ini perlu dilakukan secara terus menerus dalam bebagai aspek kehidupan melalui proses belajar sepanjang hayat. Konseling merupakan wahana pelayanan yang mampu memfasilitasi individu dan kelompok untuk menghadapi perubahan yang pesat dan ragam informasi yang amat kompleks.

Pelayanan konseling yang diluncurkan dengan kerangka kerja kelompok dapat berbentuk Layanan Konseling  Kelompok (KKp) atau Layanan Bimbingan Kelompok (BKp). Kondisi riil di lapangan menunjukkan adanya bahwa Layanan KKp dan/atau BKp ini semakin menjadi unggulan dan primadona dalam keseleruhan penyelenggaraan program konseling. Kondisi ini terjadi karena Layanan KKp dan/atau BKp memiliki beberapa keunggulan mendasar, antara lain : (1) membantu seseorang atau sejumlah orang yang tidak siap dan terbuka secara perorangan menemui konselor, (2) memfasilitasi individu atau sekelompok individu yang lebih berani berbicara dan terbuka saat bersama-sama temannya, (3) dapat melayani sejumlah orang dalam waktu yang bersamaan, (4) menimbulkan keakraban, membangun suasana saling percaya, saling membantu, dan empati diantara sesama anggota kelompok dan konselor, (5) menemukan alternatif pemecahan masalah yang lebih banyak dan bervariasi, karena mengemukanya berbagai pemikiran dari anggota, (6) praktis, dalam arti dapat dilakukan di mana saja, di dalam ruangan atau di luar ruangan, di sekolah atau di luar sekolah, di rumah salah seorang peserta atau dirumah konselor, di suatu kantor, atau di ruang praktik pribadi konselor.

Konsekuensi logis dari perspektif yang dideskripsikan di atas adalah adanya tuntutan pelayanan KKp dan atau BKp  yang profesional. Konseling, dalam bentuk perorangan atau kelompok, esensinya  merupakan proses bantuan untuk mengentaskan masalah yang terbangun dalam suatu hubungan tatap muka antara dua orang individu (klien yang mengahadapi masalah dengan konselor yang memiliki kualifikasi yang dipersyaratkan). Bantuan dimaksud diarahkan agar klien mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu tumbuh kembang ke arah yang dipilihnya, sehingga klien mampu mengembangkan dirinya ke arah peningkatan kualitas kehidupan sehari-hari yang efektif (effektive daily living). Hubungan dalam proses konseling terjadi dalam suasana profesional dengan menyediakan kondisi yang kondusif bagi perubahan dan pengembangan diri klien.

Konseling profesional merupakan layanan terhadap klien yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan dapat dipertanggungjawabkan dasar keilmuan dan teknologinya. Penyelenggaraan konseling profesional bertitik tolak dari teori dan/atau pendekatan-pendekatan yang dijadikan sebagai dasar acuannya.

Implikasi dari tuntutan ini adalah, para calon konselor profesional perlu dipersiapkan melalui pembekalan terprogram untuk memperoleh pengalaman mengelola KKp dan/atau BKp secara langsung dengan sejumlah kelompok klien yang bervariasi.

B. Pengertian Dasar

Layanan Konseling Kelompok (KKp) dan/atau Bimbingan Kelompok (BKp) merupakan jenis layanan koseling yang mengikutkan sejumlah peserta dalam bentuk kelompok, dengan konselor sebagai pemimpin kelompok. Layanan ini mengaktifkan dinamika kelompok untuk membahas berbagai hal yang berguna bagi pengembangan pribadi dan/atau pemecahan masalah individu yang menjadi peserta kegiatan kelompok.

Dalam BKp dibahas topik-topik umum yang menjadi kepedulian bersama anggota kelompok, sedangkan dalam KKp dibahas masalah pribadi yang dialami masing-masing anggota kelompok. Baik topik umum maupun masalah pribadi itu  dibahas melalui suasana dinamika kelompok yang intensif dan konstruktif. Layanan ini dapat dilakukan di mana saja, di dalam ruangan atau di luar ruangan, di sekolah atau di luar sekolah, di rumah salah seorang peserta atau dirumah konselor, di suatu kantor, atau di ruang praktik pribadi konselor. Di manapun kedua jenis layanan ini dilaksanakan, harus terjamin bahwa dinamika kelompok dapat berkembang dengan sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan kelompok.

C. Tujuan

Tujuan umum layanan BKp dan/atau KKp adalah berkembangnya kemampuan sosialisasi anggota kelompok, khususnya kemampuan dalam berkomunikasi.

Secara khususkhusus tujuan BKp dan KKp adalah sebagai berikut:
1. BKp bertujuan membahas topik-topik tertentu yang  mengandung permasa-lahan actual dan menjadi perhatian anggota kelompok. Melalui dinamika kelompok yang intensif, pembahasan topic-topik itu mendorong pengembangan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan, dan sikap yang menunjang diwujudkannya tingkah laku yang lebih efektif. Dalam hal ini kemampuan berkomunikasi, verbal maupun non verbal, ditingkatkan.
2. KKp terfokus pada pembahasan masalah pribadi salah satu anggota kelompok secara bergantian. Melalui layanan kelompok yang intensif dalam upaya pemecahan masalah tersebut para anggota kelompok memperoleh dua tujuan sekaligus, yaitu :
a. terkembangkannya perasaan, pikiran, persepsi, wawasan, dan sikap terarah pada ting-kah laku khususnya dalam bersosialisasi/komunikasi
b. terpecahkannya masalah individu yang bersangkutan dan diperolehnya imbasan pemecahan masalah tersebut bagi anggota kelompok yang lain.
C.  Tahap Bimbingan dan  Konseling Kelompok

1.  Tahap Pembentukan

Tahap ini merupakan tahap pengenalan dan penjajakan, dimana  para peserta diharapkan dapat lebih terbuka menyampaikan harapan keinginan dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh masing-masing anggota. Penampilan pemimpin kelompok pada tahap ini hendaknya benar-benar bisa meyakinkan anggota kelompok sebagai orang yang bisa dan bersedia membantu anggota kelompok mencapai tujuan yang diharapkan.

Dalam memulai pembentukan kelompok perlu adanya perencanaan yang matang. Oleh karena itu keberhasilan kelompok yang dibentuk tidak terlepas dari perencanaan dan pelaksanaan konseling kelompok itu sendiri. Berbagai ahli telah mengenali tahap-tahap perkembangan itu. Mereka memakai istilah yang kadang-kadang berbeda namun pada dasarnya mempunyai isi yang sama.

Beberapa tahapan dalam pembentukan kelompok adalah sebagai berikut :
a. Mengembangkan alasan-alasan pembentukan kelompok.
Alasan yang jelas dan terarah merupakan kunci yang paling penting dalam merencanakan pembentukan suatu kelompok.
b. Adanya konsep teori yang jelas yang mendasari pembentukan suatu kelompok.
Sebagai layanan profesional, dalam bimbingan dan konseling kelompokperlu adanya batasan dan kekuatan untuk membentuk suatu kelompok. Waldo (1985) mengungkapkan konsep teorinya melalui I / We /It. “I” sebagai individual yaitu interpersonal yang difokuskan pada kepercayaan, sikap dan perasaan tentang dirinya. “We” sebagai interpersonal yang menyangkut hubungan antara anggota kelompok. “It” sebagai dimensi ekstrapersonal yang menyangkut isu-isu, tugas-tugas atau menyangkut kelompok.
c. Mempertimbangkan kondisi kehidupan sehari-hari
Pembentukan suatu kelompok perlu mempertimbangkan hal-hal yang sifatnya spesifik, konkrit, dan tujuannya praktis serta prosedural. Pemimpin kelompok harus sensitif terhadap kondisi realita agar dapat mencegah reaksi-reaksi negatif dari para anggota kelompok.
d. Mempublikasikan kelompok umtuk mendapatkan anggota
Kelompok yang potensial yang mau bergabung diperlukan publikasi kelompok agar diketahui secara umum.
Pemimpin kelompok yang pandai melakukan pendekatan dengan memperkenalkan diri secara terbuka, menjelaskan prosesnya sebagai pemimpin kelompok dengan menggunakan komunikasi yang hangat dan bersahabat akan lebih mudah diterima oleh anggota dalam menjalankan kegiatan kelompok.
Pemimpin kelompok dalam tahap ini diharapkan juga harus pandai membaca situasi. Mungkin saja dalam situasi pembentukan ini keakraban dan keterikatan anggota kelompok belum terjalin. Bisa saja antara anggota yang satu dengan yang lainnya belum saling kenal mengenal.
Apabila keadaan seperti yang dikemukakan di atas memang dirasakan terjadi dalam kelompok, maka tugas pemimpin kelompok adalah membina suasana keakraban dan merangsang keterlibatan anggota dengan menumbuhkan semangat kebersamaan perasaan sekelompok. Bila masih dirasakan anggota kelompok masih enggan memikul tugas atau tanggung jawab, atau masih terjadi kebekuan suasana, maka pemimpin kelompok harus dapat merangsang dan mengarahkan anggota kelompok. Misalnya dengan menggunakan pertanyaan yang menyenangkan atau melalui permainan kelompok.

Berikut ini dikemukakan langkah-langkah pelaksanaan kegiatan yang seharusnya dilakukan dalam tahap pembentukan:
a.  Menerima secara terbuka dan mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan kesediaan anggota kelompok melaksanakan kegiatan.
b.   Berdoa secara bersama, sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-Menjelaskan pengertian bimbingan kelompok atau konseling kelompok (disesuaikan dengan kegiatan apa yang direncanakan).
c.    Menjelaskan tujuan bimbingan kelompok atau konseling kelompok.
d.    Menjelaskan cara pelaksanaan bimbingan kelompok atau konseling kelompok.
e.    Menjelaskan asas-asas bimbingan dan konseling yaitu asas kerahasiaan, kesukarelaan, kegiatan, keterbukaan, kenormatifan.
f.    Melaksanakan  perkenalan dilanjutkan dengan permainan pengakraban.

2.    Tahap Peralihan atau Transisi
Tahap transisi adalah suatu tahap setelah proses pembentukan dan sebelum tahap kerja kelompok. Dalam kelompok yang diperkirakan berakhir 12-15 sesi, tahap transisi terjadi pada sesi kedua atau ketiga dan biasanya berlangsung satu samapai tiga pertemuan. Tahap ini terdiri dari dua bagian proses yang ditandai dengan ekspresi, sejumlah emosi dan interaksi anggota. Tahap transisi dimulai dengan periode kekacauan (storming) ada beberapa hal yang menjadi karakteristik dari storming yaitu berkaitan dengan hubungan antar teman, perlawanan, dan pemrosesan antar tugas, norma dan norming, ada perbedaan sekaligus hubungan antara konsep norma dan norming, norma adalah harapan-harapan tentang perilaku anggota kelompok yang harus atau tidak harus dilakukan. Fungsi norma kelompok adalah untuk mengatur penampilan kelompok sebagi unit yang terorganisir dan mengarahkannya dalam tujuan-tujuannya. Norming adalah perasaan akan “kekitaan”, identitas, kekelompokan, kesatuan yang muncul ketika individu-individu merasa sebagai anggota suatu asosiasi atau organisasi yang besar dari dirinya.

Secara operasional hakikat tahap ini merupakan transisi antara tahap pembentukan dengan tahap kegiatan. Pada tahap ini pemimpin kelompok sekali lagi harus jeli dalam melihat dan membaca situasi. Apabila masih terlihat gejala-gejala penolakan, rasa enggan,  salah paham, kurang bersemangat dalam melaksanakan kegiatan maka pemimpin kelompok tidak boleh binggung, apalagi berputus asa.

Menghadapi keadaan seperti di atas pemimpin kelompok hendaknya memiliki kepekaan yang tinggi melalui penghayatan indera dan penghayatan rasa. Tugas pemimpin kelompok menghadapi situasi seperti itu mendorong anggota kelompok secara sukarela membuka diri untuk mengikuti kegiatan kelompok. Penampilan pemimpin kelompok yang menggambarkan sikap yang tulus, wajar, hormat, hangat dan empati akan sangat membantu mencairkan suasana menuju tahap kegiatan.

Perlu diingat bahwa tahap kedua ini merupakan “jembatan” anatar tahap pertama dan tahap ketiga. Adakalanya untuk menempuh jembatan itu dapat dilalui dengan mudah, dan adakalanya ditempuh dengan sukar. Dalam keadan seperti ini pemimpin kelompok harus berhasil membawa anggota kelompok meniti jembatan itu dengan selamat. Kalau perlu beberapa hal pokok yang sudah dibahas pada tahap pertama dapat dibahas kembali seperti asas kerahasiaan, keterbukaan  dan seterusnya.

Tahap peralihan dapat dilaksanakan melalui langkah-langkah:
a.    Menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya
b.    Menawarkan sambil mengamati apakah para anggota sudah siap menjalani kegiatan pada tahap selanjutnya (tahap ketiga).
c.    Mambahas suasana yang terjadi
d.    Meningkatkan kemampuan keikutsertaan anggota
e.    Kalau dipandang perlu, kembali ke beberapa aspek tahap pertama (tahap pembentukan)



3.  Tahap Kegiatan


Tahapan kegiatan merupakan tahap inti dari proses suatu kelompok dan merupakan kehidupan yang sebenarnya dari kelompok. Tahapan kegiatan selalu dianggap sebagai tahapan yang selalu produktif dalam perkembangan kelompok yang bersifat membangun (contructive nature) dan dengan pencapaian hasil yang baik (achievement of results) selama tahapan kerja hubungan anggota kelompok lebih bebas dan lebih menyenangkan. Hubungan antar anggota berkembang dengan baik (saling tukar pengalaman, membuka diri secara bebas, saling tanggap dan tukar pendapat, dan saling membantu). Dalam perkembangan kelompok, tahapan kegiatan merupakan kekuatan therapeutik seperti keterbukaan terhadap diri sendiri dan orang lain dan munculnya ide-ide baru yang membangun. Apapun yang menjadi tujuan, suatu kelompok yang sehat akan menampilkan keakraban, keterbukaan (self disclosure), umpan balik, kerja kelompok, konfrontasi dan humor. Perilaku-perilaku positif yang dinyatakan dalam hubungan interpersonal antar anggota akan muncul dalam hubungan sebaya (peer relationships).

Tahap ini sangat  menentukan keberhasilan kegiatan kelompok. Jika tahap sebelumnya berhasil dengan baik, maka tahap ini akan berlangsung dengan lancar.

Dalam BKp tahap ini diwujudkan dalam kegiatan-kegiatan :
a.  Masing-masing  anggota  secara  bebas  mengemukakan   topik bahasan  (kelompok bebas); Pemimpin kelompok mengemukakan suatu topik untuk dibahas oleh kelompok (kelompok tugas).
b.  Menetapkan topik yang akan dibahas terlebih dahulu (kelompok bebas); Tanyan jawab antara anggota dan pemimpin kelompok tentang hal-hal yang  belum jelas, yang menyangkut topik yang dikemukakan pemimpin kelompok (kelompok tugas).
c.   Anggota membahas topik secara mendalam dan tuntas.
d.   Kegiatan selingan

Dalam KKp tahap ini diwujudkan dalam kegiatan-kegiatan :
a.  Setiap anggota kelompok mengemukakan masalah pribadi yang perlu mendapat bantuan kelompok untuk pengentasannya.
b.  Kelompok memilih masalah mana yang hendak dibahas dan dientaskan pertama, kedua, ketiga, dst.
c. Klien (anggota kelompok yang masalahnya dibahas) memberikan gambaran yang lebih rinci mengenai masalah yang dialaminya.
d. Seluruh anggota kelompok aktif membahas masalah klien melalui berbagai cara, seperti  : bertanya, menjelaskan, mengkritisi, memberi contoh, mengemukakan  pengalaman pribadi, menyarankan.
e. Klien setiap kali diberi kesempatan untuk merespon apa-apa yang ditampilkan oleh rekan-rekan anggota kelompok.
f.   Kegiatan selingan
4.   Tahap Pengakhiran
Tahap pengakhiran secara keseluruhan merupakan akhir dari serangkaian pertemuan  kelompok. Keseluruhan pengalaman yang diperoleh anggota selama proses kerja ini memerlukan perhatian khusus dari pimpinan kelompok, terutama ketika kelompok hendak dibubarkan. Pembubaran kelompok secara keselruhan idealnya dilakukan setelah tujuan kelompok tercapai. Tetapi adakalanya terjadi lebih cepat dari yang direncanakan atau yang disebut pembubaran dini. Sesungguhnya pembubaran kelompok dalam proses layanan kelompok bimbingan dan konseling adalah proses alamiah yang harus disadari oleh pimpinan dan anggotaanggotanya, dan mereka diharapkan dapat mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin untuk menghadapi pembubaran itu. Oleh karena itu kegiatan utama anggota kelompok, menjelang kelompok dibubarkan adalah (1) membayangkan kembali pengalaman mereka selama kerja kelompok berlangsung. (2) memproses kembali ingatannya. (3) mengevaluasi. (4) mengakui dan mengakomodasikan perasaan-perasaan anggota kelompok dan mengakomodasikan perasaan-perasaan anggota yang saling  bertentangan dan (5) membantu anggota dalam membuat keputusannya secara kognitif untuk menghadapi masa depan. Oleh karena itu untuk mencapai sasaran pembubaran kelompok perlu diperhatikan beberapa hal diantaranya menyangkut persiapan dampak pembubaran terhadap anggota, kemungkinan pembubaran dini, prosedur pembubaran, masalah-masalah yang terkait dengan pembubaran dan hal-hal lain yang menyangkut tindak lanjut.

Sebagai tahap penutup dari kegiatan BKp dan/atau KKp. Tugas pemimpin kelompok dalam tahap ini adalah sebagai berikut.
a.   Mengemukakan bahwa kegiatan akan segera diakhiri
b.  Pemimpin kelompok dan anggota kelompok mengemukakan kesan dan hasil-hasil kegiatan.
c.   Membahas kegiatan lanjutan
d.   Mengemukakan pesan dan harapan
e.   Doa penutup
5. Evaluasi Kegiatan
Penilaian terhadap kegiatan konseling kelompok dapat dilakukan secara tertulis dimana para peserta diminta mengungkapkan perasaannya, harapannya, minat dan sikapnya terhadap berbagai hal, baik yang telah dilakukan selama kegiatan kelompok (yang menyangkut isi maupun proses) maupun kemungkinan keterlibatan mereka untuk kegiatan serupa selanjutnya. Pada tahap ini dilakukan tinjauan terhadap kualitas kegiatan kelompok dan hasil-hasilnya melalui pengungkapan kesan-kesan peserta. Kondisi UCA (Understanding Comfort Action) menjadi fokus penilaian hasil-hasil konseling kelompok. Penilaian dilakukan dalam tiga tahap yaitu penilaian segera (laiseg) dilakukan pada akhir setiap sesi layanan, penilaian jangka pendek (laijapen) dan penilaian janka panjang (laijapang).

Daftar Pustaka
Gazda, George M. 1984. Group Counseling A developmental Approach. Third Edition.  Toronto : Allyn And Bacon, Inc.
Prayitno, 1995. Layanan Bimbingan&Konseling Kelompok :Dasar &Profil. Cetakan Pertama. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Prayitno. 2005. Layanan Bimbingan Kelompok, Konseling Kelompok. Padang : FIP Universitas Negeri Padang
Share:

Cara Mengatur Waktu Belajar

CARA MENGATUR WAKTU BELAJAR 
Oleh : AMAR FARUQ, S.Pd
(Guru BK MIS Kemenag Gresik Jawa Timur)

1. PENGERTIAN BELAJAR
Belajar merupakan tugas pokok anda sebagai siswa baik belajar di sekolah maupun belajar di rumah. Oleh karena itu anda harus berusaha agar dapat belajar dengan baik dan teratur.
Belajar adalah usaha untuk memperoleh kepandaian dan ilmu. Belajar berarti usaha yang dilakukan secara sadar untuk mengetahui dan dapat melakukan sesuatu. Adapun hasil dari belajar berupa perubahan diri, maka anda harus mampu melakukan belajar yang dapat menghasilkan perubahan diri yaitu dari tidakd apat memahami pelajaran menjadi dapat memahami pelajaran.

Dengan belajar yang teratur, penuh disiplin, konsentrasi dan pengaturan waktu yang baik, akan mempermudah anda untuk melakukan belajar. Untuk memahami dan mengerti suatu pelajaran perlu anda perhatikan cara belajar sebagai berikut :

a. Cara Belajar di Sekolah
1. Siswa harus mengetahui semua pelajaran yang akan ditempuh
2. Siswa memiliki sikap terbuka, menerima guru apa adanya, sehingga dapat memahami materi pelajaran yang diberikan
3. Siswa mempelajari dan menyiapkan alat pelajaran sehari sebelumnya
4. Siswa harus penuh minat dan perhatian waktu proses kegiatan belajar mengajar berlangsung
5. Usahakan siswa bersikap kritis waktu menerima materi pelajaran
6. Siswa memiliki dorongan dan semangat yang kuat untukmaju sesuai kemampuannya
7. Siswa menghindari sifat malu bertanya
8. Siswa harus berusaha untuk mencapai prestasi sesuai kemampuannya (prestasi sendiri tidak tergantung orang lain)
9. Siswa harus mengikuti peljaran secara aktif
                                                                                                                         
b. Cara Belajar di Rumah

Selain belajar di sekolah, anda harus selalu membiasakan diri belajar di rumah secara teratur, sehingga anda harus memilih waktu dan tempat yang menyenangkan. Tempat menyenangkan ditunjang perlengkapan belajar yang lengkap/cukup akan menjadikan anda terasa nyaman.

Belajar di rumah memerlukan adanya konsentrasi yang penuh. Konsentrasi belajar di rumah memerlukan suara musik yang halus dan dapat berkonsentrasi dengan baik. Kesempatan belajar di rumah dapat dibagi menjadi dua yaitu :
1. Mengulangi pelajaran yang baru diterima dari sekolah, memperjelas dan melengkapi catatanm, serta mengerjakan pekerjaan rumah (PR)
2. mempersipakan bahan pelajaran yang akan dipelajari atau materi berikutnya
3. Pelajaran yang dirasa sulit/sukar jangan dijauhi atau dihindari, tetapi usahakan anda memotivasi diri untuk menjadikan pelajaran tersebut menarik.

c. Cara Belajar Kelompok

Belajar secara kelompok banyak manfaatnya bagi siswa yaitu siswa yang belum memahami bagian pelajaran tertentu dapat bertanya pada teman yang sduah memahami dan siswa yang sudah memahami akan lebih mahir dan menguasai karena sering ditanya temannya. Usahakan anggota kelompok rumahnya berdekatan dan ketua kelompok bergiliran (digilir).

2. CARA MENGATUR WAKTU BELAJAR

Usahakan anda dapat mengatur waktu yang tepat dan efesien untuk belajar, sehingga anda tidak merasa ragu-ragu, menempuh keberhasilan dalam belajar. Coba perhatikan cara-cara mengatur waktu menurut Jeanne Shay Schumm sebagai berikut :

a. Tetapkan Prioritas
Bila banyak yang harus dikerjakan, buatlah daftar apa yang harus dan akan dikerjakan. Urutkan setiap tugas dalam urutan 1, 2, 3 dan seterusnya menurut kepentingannya. Laksanakan tugas No. 1 terlebih dahulu, lalu tugas No. 2 dan seterusnya sesuai yang ada dalam daftarmu. Hal ini akan membantu anda mengatur aktivitas menjadi rapi, menghindari stres dan memacu untuk berprestasi.
b. Luangkan Waktu Untuk Bersenang-Senang
Waktu untuk rekreasi membantu anda agar tetap sehat secara mendal dan fisik. Kerjakan dulu tugas wajib anda sebelum rekreasi. Waktu luang akan terasa lebih bebas kalau tidak ada urusan yang belum anda selesaikan. Rekreasi juga dapat dijadikan sebagai imbalan, jika anda sudah berhasil mengerjakan atau mencapai sesuatu.
c. Bersikap Fleksibel (luwes)
Jadwal yang anda buat bukanlah terpahat di batu, selalu ada perubahan dan berilah ruang untuk mengadaptasikan dengan suasana atau kebutuhan baru dan memanfaatkan kesempatan baru tersebut.
d. Jangan membebani diri dengan jadwal yang berlebihan
Lakukan perubahan untuk mencapai prestasi secara bertahap, bila terlalu banyak yang anda kerjakan, anda akan menjadi bingung dengan jadwal tersebut. Kaji ulang kegiatan
anda. Tentukanlah hal penting untuk segera dikerjakan.
e. Luangkan waktu untuk membiasakan diri menjadi teratur
Rencanakan beberapa menit setiap hari untukmenyusun jadwal apa yang akan anda lakukan hari ini. Kemudian pikirkan apa yang harus anda lakukan dan bagaimana cara anda melakukannya, serta bayangkan hal positif apa yang akan anda dapatkan jika sudah menjadi kebiasaan. Anda akan menghemat waktu berjam-jam dan melangkah dengan pasti setiap hari karena anda telah mengetahui apa yang akan anda lakukan/kerjakan.
f. Temukan dan manfaatkan waktu sempit
Saat menunggu bus atau mobil antar jemput, saat jeda antar mata pelajaran ataus esaat sebelum acara TV kesukaan, saat-saat itu adalah waktu yang dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk membaca/belajar. Pilihlah sesuatu yang ringan, lalu selesaikan dan singkirkan. Memang sedikit waktunya tetapi dapat meringankan tugas anda.
g. Jangan menunda-nunda.
Banyak orang menunda-nunda karena suatu alasan. Kemungkinan tugas tersebut terlalu sulit atau membuat stres. Apapun penyebabnya, menunda-nuda pekerjaan merupakan kebiasaan buruk. Obat terbaikya adalah bekerja keras dan segera lakukan pekerjaan tersebut. Mungkin ketika anda sudah mulai mengerjakannya, tugas tersebut terasa menjasi lebih mudah dari yang anda perkirakan. Kalau anda benar-benar tidakd apat memulai, bicarakan dengan teman, guru atau orang lain yang anda percaya.
3. MEMANFAATKAN WAKTU UNTUK BELAJAR

Waktu sangat berharga bagi setiap orang, asalkan orang tersebut dapat memanfaatkannya, terutama bagi anda sebagai siswa yang akan meningkatkan prestasi dan mengembangkan diri dalam belajar. Sebaliknya waktu tidak akan berharga atau sia-sia bila tidak dapat dimanfaatkannya.

Pemanfaatan waktu belajar, sebaiknya anda memilih memanfaatkan waktu luang sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan anda dan perlu dipertimbangkan jangan sampai membawa akibat yang merugikan diri sendiri.

Tidak dapat dipungkiri bahwa orang-orang yang mencapai keberhasilan dalam hidupnya dalah orang-orang yang teratur dan disiplin memanfaatkan waktunya. Anda sebagai siswa memanfaatkan waktu anda untuk belajar terutama menjelang ulangan, gunakan/tambahkan waktu belajar anda dengan memanfaatkan waktu luang pagi hari, siang hari dan malam hari yang biasanya digunakan untuk bermain atau nonton TV.

Disiplin menggunakan/memanfaatkan waktu untuk belajar tidak datang dengan sendiriny tetapi melalui latihan dan membuat jadwal kegiatan sehari-hari yang dilaksanakan dengan ketat.




Share:

Popular Posts

Recent Posts