About Me

My Photo
Gresik, East Java, Indonesia
Building a child's personality is more important

Wednesday, September 28, 2011

Empati


E M P A T I

Oleh : AMAR FARUQ, S.Pd
(Guru BK MIS Kemenag Gresik Jawa Timur)



A.     Batasan Empati
Dalam artian yang sederhana, Empati diterjemahkan dari kata Empathy (bgs. Inggris) – menunjuk pada kemampuan konselor untuk dapat merasa, berpikir dan mengalami apa yang dirasakan, dipikirkan dan dialami oleh konseli. Rogers(1989) menyatakan bahwa empati menunjuk pada kondisi psikologis yang menggambarkan bahwa konselor memahami secara akurat perasaan dan makna-makna pribadi yang sedang diamali oleh konseli dan kemudian mengkomunikasikan pemahaman itu kepada konseli. Ahli lain, Cormier & Cormier(1985) mendifinisikan empati sebagai suatu bentuk kemampuan untuk mengerti/memahami konseli sesuai dengan sudut pandang yang digunakan oleh konseli tersebut. Pada tataran yang paling tinggi(dalam konseling), empati menunjuk pada konselor untuk memasuki dunia pribadi konseli sehingga ia dapat memperjelas bukan hanya perasaan-perasaan atau pikiran yang disadari oleh konseli tetapi juga yang tidak disadarinya. Jadi untuk dapat berempati, konselor terlebih dahulu harus dapat memasuki kerangka acuan konseli, atau menempatkan diri kita kedalam dunia subyektif konseli.
B.     Peran Empati dalam hubungan konseling.
Secara umum, pengkomunikasian empati dalam suatu hubungan interpersonal akan meningkatkan kualitas hubungan tersebut. Kualitas tersebut dapat ditandai oleh beberapa hal, antara lain adalah berkembangnya  atau meningkatanya rasa saling percaya dan menurunnya/menghilangnya kecemasan diantara individu-individu yang terlibat dalam hubungan tersebut.
Cormier & Cormier(1985) mengemukakan tiga tujuan pengkomunikasian empati dalam suatu hubungan konseling. Tujuan yang pertama adalah untuk mengembangkan rapot (Rapport). Apot adalah suatu bentuk hubungan yang ditandai oleh adanya suatu keterbukaan, kejujuran dan kepercayaan. Dengan mengkomunikasikan empati, maka konseli akan mengembangkan sikap percaya dan terbuka kepada konselor. Sikap ini sangat potensial untuk mendorong konseli untuk membicarakan kesulitan-kesulitanya atau masalahnya, perasaannya, pikirannya, dan tindakan-tindakannya secara terbuka dan terus terang. Keterbukaan ini tentu saja memungkinkan konselor memperoleh banyak informasi obyektif tentang masalah yang sedang dialami  oleh kenseli beserta dengan seluruh aspek perkembangan dan latar belakangnya.  Tujuan yang ketiga adalh untuk mendorong eksplorasi diri pada pihak konseli. Kesediaan konseli untuk membicarakan masalahnya secara terbuka dan terus terang tentu saja akan mempermudah terjadinya eksplorasi (pengungkapan) diri. Dari pengungkapan diri ini maka konselor akan dapat mengetahui dan memahami bukan hanya masalah atau kesulitan konseli tetapi juga potensi-potensi(keunggulan) dan kelemahan-kelemahannya.
C.    Bentuk – Bentuk Empati
Empati dapat dikomunikasikanoleh konselor dengan cara verbal(menggunakan kata-kata atau bahasa) dan non verbal (menggunakan isyarat tubuh). Berikut adalah penjelasan dan contoh dari dua empati tersebut .
1.      Empati Non Verbal
Konselor dapat mengkomunikasikan empati melalui berbagai bentuk isyarat tubuh yang mengindikasikan atau menyatakanadanya perhatian dan pemahaman. Penampakan prilaku non verbal ini penting. Setidak-tidaknya untuk menunjukkan kepada konseli bahwa konselor konsisten dan sungguh-sungguh ingin memahami dirinya. Konseli perlu memiliki persepsi bahwa apa yang diucapkan oleh konselor adalah tidak palsu,dan ini dapat ditangkap oleh konseli melalui ekspresi non verbal konselor. Bahkan, meskipun konselor mengatakan “naik, sekarang ceritakan kesulitanmu dan saya akan mendengarnya,” konseling mungkin tidak akan langsung mempercayainya jika konselor melihat kearah lain dan/atau menyandarkan badannya kesandaran kursi sehingga tanpa malas dan tidak berminat. Menurut para ahli dalam bidang konseling, jika pesan verbal dan non verbal konstradiksi satu sama lain, konseli akan lebih mempercayai pada prilaku non verbal konselor (gazda, Asbury, Balzer, Childers & Walters,1984). Berikut adalah beberapa bentuk prilaku non verbal yang telah diyakini dapat digunakan sebagai alat untuk menyampaikan/menyatakan empati :
a.     Menjaga kontak/tatapan mata
Kontak/tatapan mata berkenaan dengan arah pandangan mata konselor ketika ia berbicara dengan konseli. Tatapan seperti apa yang menyatakan empati ? tentu saja ini dapat bervariasai atau berbeda antara budaya yang satu dengan yang lainnya. Sebgai contoh, dalam budaya barat pada umumnya, memandang langsung kearah mata konseli ketika sedang berkomunikasi dinilai lebih empatik karena tindakan itu mengindikasikan adanya keinginan untuk mendengarkan dan memahami. Namun perlu diingat tatapan langsung ini harus tidak menakutkan atau membuat konseli menjadi takut, gelisah, atau tidak nyaman. Tatapan yang empatik adalah memandang kearah titik tengah antara dua mata konseli dengan cara yang lembut dan mengalihkan tatapannya untuk tiap beberapa saat dengan cara mengikuti arah pandangan mata konseli. Dalam budaya Eropa, menjaga kontak mata ketika sedang mendengarkan mengindikasikan adanya empati.
b.     Mencondongkan badan ke arah konseli
Cara konselor memposisikan tubuhnya secara keseluruhan dihadapan konselinturut mempengaruhi sikap empatinya. Sebagai contoh, Konselor yang agak mencondongkan badannya ke arah konseli dinilai lebih empatik. Sebaliknya, konselor yang menyandarkan badannya kebelakang ketika berbicara dengan konseli dinilai tidak empatik karena menindikasikan kurang adanya keinginan konselor untuk mendengarkan secara aktif apa yang dikatakan oleh konseli. Oleh karena itu, onselor direkomendasikan untuk mencondongkan badannya ke arah konseli ketika sedang berkomunikasi dengannya, baik ketika komunikasi itu berlangsung dengan cara duduk atau berdiri. Di samping itu, konselor juga perlu menghadapkan badannya ke arah konseli dan bukan ke arah lain.
c.     Sikap Tangan dan Kaki
Cara konselor mengontrol tangan kakinya ketika sedang berkomunikasi dengan konseli juga mempengaruhi kualitas empati. Sebagai contoh, dalam budaya barat pada umumnya, berpangku tangan, bersedeku, atau selalu menggerak-gerakkan anggota badan, khususnya kaki, merupakan benntuk prilaku nonverbal yang tidak empatik. Untuk itu konselor sebaiknya menghindari prilaku-prilaku tersebut. Untuk memperhatikan respon empatik, konselor dapat mengambil posisi tangan terbuka, seperti meletakkan kedua tangan pada lengan kursi atau di atas pangkuannya. Demikian kaki jangan diangkat ke atas dan/atau digerak-gerakkan.
d.     Mengikuti gerakan konseli.
Mengikuti gerakan konseli (Pacing) adalah menyesuaikan prilaku secara tepat dengan prilaku konseli. Sebagai contoh, ketika konseli tampak gelisah dan/atau menangis ketika menceritakan sesuatu, konselor dapat berdiam sejenak untuk memberikan kesempatan kepada konseli menumpahkan beban psikologisnya; ketika konseli memandang ke suatu arah, konselor mengikuti arah pandangan mata konseli;konselor menyesuaikan posisi duduknya dengan posisi duduk konseli; konselor menghadapkan badannya ke arah konseli ketika sedang berkomunikasi (tidak miring) dengannya; dan sebagainya
e.     Memberikan sentuhan
Entuhan dapat menyatakan suatu dukungan atau pemahaman. Sentuhan (touching) merupakan bentuk tindakan menyentuhkan badan (umumnya tangan) ke badan konseli. Sentuhan dapat dilakukan dengan beberapa cara, misalnya, menepuk-nepuk punggung konseli atau memegang tangannya (untuk tujuan menguatkan hatinya). Cara lain untuk memberikan sentuhan adalah dengan memeluk konseli ketika mereka sedang mengekspresikan kesedihan yang mendalam, atau menjabat tangannya dengan hangat sebagai ucapan selamat dan turut senang ketika konseli sedang bersuka cita karena sedang mengalami keberhasilan. Tentu saja perlu diperhatikan batas-batas tertentu dalam memberikan sentuhan sesuai dengan norma atau tuntutan budaya yang berlaku pada konteks kehidupan konseli berkenaan dengan apa yang patut dan tidak patut.
f.       Menjaga Jarak Fisik
Jarak fisik menunjuk jarak antara posisi konselor dan konseli ketika sedang berkomunikasi. Jarak fisik antara konselor-konseli yang umumnya dipandang mengandung nilai empati adalah sekitar setengan hingga satu meter., baik ketika duduk maupun berdiri. Meskipun demikian, yang paling krusial berkenaan dengan jarak fisik ini adalah dapat tidak kenselor dan konseli saling mendengarkan dengan jelas tentang apa yang dikomunikasikan oleh keduanya dalam volume suara yang wajar (tidak berteriak dan tidak berbisik).
g.     Memperhatikan Waktu
Waktu (timing) juga dapat digunakan untuk mengkomunikasikan empati. Sebagai contoh, konselor yang datang tepat waktu atau sesuai janji yang telah ditetapkan lebih sering terlambat dalam memenuhi janji atau kesepakatannya dengan baik.

2.      Empati Verbal
Banyak cara vebal yang dapat digunakan oleh konselor untuk mengkomunikasikan empati tetapi semua itu tidak akan dikomunikasikan di sini. Berikut inio hanya akan diberikan cara-cara verbal mengkomunikasikan empati dari Hackney & Cormier (2001) yang dipandang mencukupi untuk dijadikan sebagai model. Hackney & Cormier mengemukakan beberapa bentuk empati verbal: yakini Perhatian verbal (verbal attentiveness), pernyataan eksploratif, meminta penjelasan, merefleksikan isi pesan konseli, merefleksikan perasaan konseli, dan merangkum tema pesan konseli. Semua bentuk prilaku verbal empati verbal tersebut sering dimasukkan kedalam elemen-elemen ketrampilan dasar konseling yang biasa disebut ketrampilan mendengarkan (attending dan listening skills) (Egan, 1991; Ivey, et al, 1997), Berikut adalah uraian konsep dan contoh dari bentuk-bentuk empati verbal tersebut :
a.      Memberikan perhatian verbal
Cara paling umum untuk menyatakan perhatian verbal adalah dengan menggunakan dorongan-dorongan verbal singkat seperti, “Mm-hmm,” “saya tahu,” “ Bagus,” “lalu?” dan selanjutnya. Jika digunakan secara selektif, ucapan-ucapan singkat tersebut dapat memiliki efek yang sangat berdaya guna untuk mengkomunikasikan minat konselor dan mendorong ekspresi konseli. Namun, jika respon-respon tersebut digunakan secara berlebihan justru dapat merusak (menghambat) eksplorasi diri konseli. Bentuk lai dari perhatian verbal dapat dinyatakan dalam tekanan atau volume suara. Konselor perlu belajar menggunakan suara secara efektif dan beradaptasi dengan volume, dan rata-rata percakapan. Ada satu konsep penting yang perlu mendapatkan  perhatian  dan mengkomunikasikan empati secara verbal, yakni verbal undermining – manipulasi volume dan penekanan (Ivey, 1994), Ivey, et all (1997) juga memperkenalkan fokus sebagai aspek perhatian verbal. Memusatkan perhatian (focusing) – sering disebut dengan selective attending – menunjuk pada upaya konselor untuk memilih aspek-aspek penting dari pesan konseli yang perlu di respon .
b.     Mengajukan Pertanyaan.
Dalam konseling, konselor sering kali perlu mengungkap hal-hal yang tidak diceritakan oleh konseli, atau harus mendorong konseli untiuk berbicara lebih luas dan mendalam tentang apa yang telah diceritakannya. Untuk mencapai tujuan ini, konselor dapat menggunakan teknik bertanya. Bentuk pertanyaan yang dipandang lebih baik untuk mendatangkan informasi adalah pertanyaan terbuka. Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang mengundang jawaban luas, uraian, ceritera, dan bukan jawaban Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang mengundang jawaban luas, uraian, ceritera, dan bukan jawaban ya atau tidak. Bentuk pertanyaan ini seringkali disebut pertanyaan eksploratif atau pertanyaan untuk menggali informasi (Probing, atau inguiry quistioning).
c.      Meminta Penjelasan.
Meminta penjelasan – dalam bahasa teknis diebut “klarifikasi” (Clarification). Klarifikasi adalah suatu bentuk pertanyaan untuk meminta penjelasan tentang sebagian atau seluruh pesan konseli yang belum/tidak jelas atau ambigu. Ketidak jelasan pesan konseli disebabkan oleh karena konseli seringkali mengekspresikan pesan atau mempersepsi masalah atau peristiwa lain yang berkaitan dengan masalahnya ituatasdasar kerangka acuan internalnya. Diantara pesan-pesan yang mungkin samar adalah yang menggunakan istilah-istilah inklusif (dia, mereka), prase ambigu (bapak tahu...., ibu tahu....), dan kata-kata yang memiliki makna ganda (bapak saya memang keras .....). Klarifikasi selalu dimulai dengan bentuk pertanyaan dan diawali dengan frasi seperti : “ Apa yang kamu maksud dengan .... “ atau “  Dapatkah kamu menceritakan lebih rinci tentang .... ?” diikuti dengan mengulang sebagian atau seluruh pernyataan konseli yang ingin anda klarifikasi .
d.     Merefleksikan Isi.
Merefleksikan isi pesan – dalam bahasa teknis disebut  Parafrase (Paraphrase) – adalah suatu bentuk respon verbal yang menyatakan kembali kata-kata atau pokok-poko pikiran konseli yang tersurat dalam ceritanya. Namun, parafrase yang efektif adalah tidak hanya sekedar menirukan kembali pernyataan konseli, tetapi menangkap ide atau pokok pikiran utama dari pesan konseli dan kemudian menyatakan dengan kata-kata sendiri. Dapat dikatakan, parafrase memusatkan perhatian  pada bagian kognitif dari pesan konseli. Parafrase menrupakan kondisi yang penting untuk mengembangkan hubungan, sebab melalui parafrase konseli akan mempersepsi bahwa konselor mendengarkan dan ingin memahaminya, dan ini tentu saja mendorong konseli untuk lebih mengelaborasi pikiran-pikirannya. Parafrase juga memungkinkan konseli untuk lebih memusatkan perhatian pada situasi, prilaku, dan pikiran tertentu.
Penggunaan parafrase dalam hubungan konseling memeiliki beberapa tujuan. Tujuan yang pertama adalah untuk menyatakan kepada konseli bahwa konselor memahami apa yang dikatakannya dan dengan demikian dapat menumbuhkan kepercayaan. Tujuan Kedua, Parafrase dapat mendorong konseli untuk mengelaborasi pokok pikirannya. Ini penting sebb kita menginginkan agar konseli mau membeicarakan suatu topik penting yang sedang dirisaukannya secara lebih mendalam. Tujuan yang Ketiga, Penggunaan parafrase dalam hubungan konseling dapat membantu konseli untuk memusatkan perhatian pada situasi atau peristiwa khusus, pikiran, atau prilaku. Berikut ini contoh :
Konseli  Iya pak, saya mengerti jika saya hanya sekedar duduk-duduk saja di kelas dan tidak memperhatikan apa yang dijelaskan oleh guru serta membuat catatan-catatan penting, saya tidak akan dapat menguasai pelajaran dengan baik.”
Konselor “ Bagus, jadi kamu tahu apa yang seharusnya kamu lakukan jika kamu ingin dapat menguasai pelajaran dengan baik dan menjadi siswa yang berhasil.”
e.      Merefleksikan Perasaan konseli
Merefleksikan perasaan konseli – biasa disebut Refleksi Perasaan (Reflection of Feeling)  pada dasarnya sama dengan parafrase tetapi berbeda fokus. Jika parafrase memusatkan pada isi pesan (komponen kognitf), maka refleksi memusatkan perhatian pada emosi atau perasaan yang menyertai pesan yang disampaikannya (komponen afektif). Jadi refleksi  adalah bentuk respon verbal untuk memantulkan (merefleksikan) kembali perasaan atau emosi konseli yang tersirat dalam pernyataan yang disampaikannya. Cormier & Cormier (1985) mengemukan 5 (lima) tujuan refleksi perasaan dalam hubungan konseling, sebagai berikut :
1)  Untuk menyatakan minat pada konseli bahwa konselor berusaha ingin memahaminya. Perasaan dimengerti ini pada gilirannya akan mendorong konseli untuk berbicara lebih luas.
2)  Untuk mendorong konseli agar mengekspresikan perasaannya lebih mendalam – baik positif maupun negatif – tentang suatu peristiwa, orang, atau apa saja. Seringkali konseli tidak siap untuk menceritakan perasaannya karena mereka tidak untuk melakukannya, khususnya pada konseli pria. Ekspresi perasaan bukan menjadi tujuan akhir, tetapi ia dapat digunakan sebagai alat untuk membantu konseli memahami masalahnya.
3)  Untuk membantu konseli mengelola perasaan-perasaannya. Belajar mengelola  perasaan merupakan hal yang sangat penting, khususnya ketika konseli mengalami perasaan yang intens seperti sangat takut, sangat gelisah, atau sangat marah. Emosi yang kuat dapat mempengaruhi (menghambat) kemampuan konseli untuk membuat respon yang rasional (kognitif atau prilaku) terhadap tekanan.
4)  Untuk menangani munculnya perasaan negatif konseli terhadap konseli atau konselor. Jika konseli merasa tak nyaman atau gelisah dengan bantuan yang ditawarkan oleh konselor, maka merka akan menjadi defensif, enggan, bahkan menolak. Penggunaan refleksi dalam kasus ini adalah  untuk menyadarkan konseli bahwa konselor memahami perasaan-perasaannya.
5)  Untuk membantu konseli membedakan berbagai macam perasaan yang dialaminya. Konseli seringkali melukiskan perasaannya dengan kata-kata seperti : cemas, depresi, risau, dan sebagainya yang seringkali itu tidak benar-benar menggambarkan apa yang sesunggunya sedang dirasakannya. Sebagai contoh, konseli mungkin mengatakan “  saya gelisah” untuk menyatakan perasaan marah, sebal, kecewa, atau depresi.
Konseli : “saya tak senang pelajaran matematika karena sangat sulit. “
(ungkapan konseli “ saya tidak senang matematika , “ menyatakan bagian afeksi/emosi; dan pernyataan, “Matematika pelajaran yang sulit” merukan bagian kognisi).
Konselor : “ Sepertinya kamu harus merasa tak berdaya untuk menangani kesulitanmu dalam matematika.”
Konseli    : “ saya tidak tahu bagaimana saya harus mengatakan pada pacar saya jika saya ingin putus dengannya. Saya takut dia marah, sedih, dsb. Tapi saya harus mengatakannya.”
(Dua kalimat pertama merupakan bagian isi karena menggambarkan situasi keinginan untuk memutuskan hubungan; kalimat ketiga merupakan bagian emosi).
Konselor : "Hm...sepertinya kamu merasa tertekan untuk memutuskan hubungan dengan pacarmu.
f.       Merangkum
Merangkum berarti menyatukan beberapa pesan konseli kedalam satu topik atau tema inti. Rangkuman juga berfungsi untuk mereviu kemajuan yang telah dicapai dari setiap tahapan konseling. Secara operasional, rangkuman dapat didefinisikan sebagai penggabungan dari dua atau lebih parafrase dan/atau refleksi untuk memadatkan pesan-pesan konseli pada setiap akhir sesi, atau dari pesan-pesan konseli yang kompleks dan panjang yang mengandung banyak elemen.

No comments: